Menjadi Anak Rantau

Tiga tahun sudah aku di Surabaya, menjalani kehidupan sebagai anak rantau. Aku lahir di Makassar, tepatnya di sebuah desa bernama Pinrang. Setelah itu, keluargaku pindah ke Gorontalo, begitu pun denganku, merantau. Jadi bisa dibilang, aku di Makassar Cuma numpang lahir doang, aku tumbuh, berkembang, dan menjadi remaja di Gorontalo, sebuah provinsi yang terletak di sebelah utara pulau Sulawesi. Ketika kelas 2 SMA, aku memutuskan pindah ke Surabaya. Kali ini tanpa keluarga, hanya aku seorang. Inilah merantau yang sesungguhnya bagiku. Sebenarnya aku tidak benar-benar sendiri di sana, ada kakakku yang sedang menempuh pendidikan S2-nya, tapi kami tinggal terpisah. Seperti anak rantau lainnya, aku menyewa kamar kos, lebih tepatnya kontrakan, yang terletak di daerah kampus ITS.

Kalau ditanya alasanku ingin pindah ke Surabaya, simple. Aku ingin hidup mandiri. Well, sebenarnya masih ada beberapa alasan lain juga sih. Awalnya ibuku tidak setuju. Wajar saja. Siapa pula yang tega membiarkan satu-satunya anak perempuannya yang masih berumur 15 tahun hidup sendiri di kota orang. Tapi pada akhirnya aku diizinkan pada tahun keduaku di SMA. Sedikit tidak menyangka aku akhirnya mendapat izin tersebut, karena permintaan itu sudah ditolak selama 1 tahun.

Oke, cukup intronya.

Gimana rasanya jadi anak rantau? Amazing. Awalnya perasaan campur aduk antara sedih pisah sama orang tua dan teman-teman, khawatir nanti di Surabaya bisa betah ato ga, hingga excited menyambut hidup baru, cielah. Tahun demi tahun, rasa sedih berubah jadi homesick, kalo awal-awal yang dikangenin Cuma orang-orangnya, lema-kelamaan yang dikangenin tambah banyak. Rumahnya, kamarnya, makanannya, jalanannya, bahkan gunungnya. Rasa khawatir bisa dibilang udah ga ada, digantikan dengan rasa excited yang sampe sekarang masih ada aja walaupun udah 3 tahun di sana.

Banyak banget hal-hal baru yang aku dapet dari merantau. Aku juga jadi lebih mengenal diri aku sendiri, tau kemampuan aku sendiri, karakter aku sendiri. Aku jadi tau kalo aku orang yang excited banget sama hal-hal baru, mungkin itu sebabnya aku betah di Surabaya. Bahkan sampe 3 tahun pun, tetep aja ada hal-hal baru yang bisa aku eksplor.

Di Surabaya, aku bener-bener harus ngatur semuanya sendiri, ada masalah ya ditanggung sendiri. Bangun tidur dibangunin alarm, jadi kalo telat ga bisa salahin Mama yang lupa bangunin. Makan harus masak ato beli sendiri, kalo mager ya siap-siap nahan lapar. Baju sekolah disiapin sendiri, nyuci sendiri, nyetrika sendiri, bisa sih pake laundry, tapi yakin duitnya ga sayang? Mending dipake yang  lain sih kalo aku, wkwk. Nah, enaknya dari ngatur semuanya sendiri adalah kita jadi bebas nentuin kapan kita mau ini mau itu, pulang malem juga ga ada yang marahin (asal ga ketahuan ortu aja sih, wkwk), mo males-malesan seharian di rumah nonton drakor juga santaii. Intinya, hidupmu tanggung jawabmu lah.

Salah satu hal yang aku suka dari hidup di Surabaya adalah lingkungan tempatku tinggal. Walaupun belum mahasiswa, tapi aku ga jarang mengikuti acara-acara yang ditujukan untuk mahasiswa karena lingkunganku yang merupakan lingkungan perkuliahan. Aku berteman dengan beberapa mahasiswa ITS, Pens, dan PPNS. aku juga sering menggunakan fasilitas-fasilitas kampus perjuangan tersebut seperti wifi, perpustakaan, dan lain-lain. Aku merasa seperti mahasiswa “sesungguhnya” di sana.

Aku orangnya cerewet dari dulu, tapi kurang pandai bersosialisasi, males kenalan sama orang baru, lebih suka kemana-mana sama temen-temen yang emang udah deket. Awal aku di Surabaya, aku mulai sadar sikap yang kayak gitu menghambat aku. Mana bisa jadi orang baru kalo ga berani nanya sama orang ga dikenal. Aku mulai belajar untuk ngilangin rasa malu untuk bertanya, plus kenalan. Salah satu kata-kata yang selalu aku bilang ke diriku sendiri buat ngilangin rasa malu adalah “Tenang, mereka ga kenal aku. Toh besok-besok mereka juga udah lupa sama wajahku.” Lumayan ampuh. Pada dasarnya kan kita malu karena diliat orang, kita takut orang-orang bakal mengingat kejadian memalukan kita. Jadi kalo kita tau mereka ga bakal nginget kita lagi, ngapain malu? Ya gak?

Banyak respons yang aku terima ketika orang-orang tau aku anak rantau dari pulau seberang. Intinya sih sama, aku berani, kata mereka. Terkadang ada juga yang bilang, “Ibu kamu mau ya ngizinin, aku aja mo kuliah di sini harus ngebujuk-bujuk orang tua dulu, itu pun setelah dibolehin harus pulang seminggu sekali.” Kadang-kadang aku jadi kepikiran, bener juga ya, aku anak perempuan satu-satunya di keluargaku, anak terakhir lagi, kok aku tega ya ninggalin orang tuaku sendirian. Tapi pikiran-pikiran itu kalah dengan jiwa “petualang”ku. Lagipula, bukankah semua orang pada akhirnya harus berpisah dengan orang tuanya dan belajar menjalani hidup sendiri? Entah ketika mereka kuliah, kerja, nikah, atau meninggal.

Merantau membuatku lebih menghargai banyak hal yang dulu terabaikan olehku. Membuatku menghargai setiap detik yang aku habiskan di Gorontalo. Kalau dulu ketika di jalan, aku akan sibuk dengan telepon genggam dan sosmednya, kini aku lebih tertarik menatap jalanan, memerhatikan setiap sudutnya sambil bernostalgia. Kadang aku memilih untuk menikmati pemandangan gunung di kejauhan yang tidak bisa aku lihat di Surabaya karena letaknya yang berada di tengah daratan.

——-

Ga lengkap rasanya kalo nulis pengalaman tanpa ngasih tips. Tips-tips di bawah ini lebih ke tips dalam bentuk persiapan ‘diri’, bukan persiapan teknis. So here it is..

Pertama, siapin mental. Di tempat rantauan nanti akan ada banyak banget hal-hal tak terduga yang terjadi, apalagi kalo tempat rantau kita jauh dari tempat asal, lebih banyak lagi hal-hal unexpected, mulai dari karakter orang-orangnya yang beda, bahasanya beda, budayanya, dan lain sebagainya. Jadi sebelum nyampe sana kita udah harus siap mental terhadap semua hal yang akan kita hadapi, harus punya mental anak rantau, tahan banting, gak manja, mampu beradaptasi, harus pintar-pintar juga melihat situasi dan kondisi.

Kedua, berani bertanya. Ini salah satu yang terpenting. Kita di sana posisinya sebagai orang baru yang ga ngerti apa-apa, jadi ga usah sok-sokan ato malu-malu buat nanya. Orang-orang ga bakal pelit buat ngejawab kok, asal pintar-pintar pilih orang yang mo ditanyain. Biasanya sih aku nyarinya ibu-ibu yang keliatan ramah, kalo ada. Tapi tetep harus waspada juga sih kalo nanya, ga jarang juga ada orang yang memanfaatkan ketidaktahuan kita untuk kepentingannya sendiri. Jangan asal ngasih tau identitas diri, bahaya.

Ketiga, hemat. Biaya hidup kita di tempat rantau pasti lebih mahal dibanding di rumah sendiri, makanya kita harus pintar-pintar menggunakan uang. Cari tahu tempat makan murah daerah tempat tinggal, biasanya daerah kampus banyak. Ga Cuma tempat makan, tapi juga tempat beli peralatan sehari-hari kayak sabun, sampo, sikat gigi, ciki-cikian. Indomar*t, alfam*rt, hyperm*rt, superind*, dan sejenisnya itu masukin blacklist, mending beli di toko kelontong biasa ato supermarket dengan harga bersahabat. Kebutuhan kita di sana bukan Cuma makan dan alat mandi doang, masih banyak lagi yang lain, sewa kosan, biaya transportasi, belum lagi kalo ada hal-hal di luar rencana, hp rusak misalnya, butuh uang lagi buat bayar servis, jadi jangan sampe uangnya abis buat 2 hal itu doang.

Keempat, cari teman sebanyak-banyaknya. Salah satu hal terpenting yang aku dapet dari tinggal di Surabaya adalah dapet banyak kenalan baru. Kalo diinget-inget, dulu aku paling anti sama ngajak orang lain kenalan, bahkan ketika diajak orang lain kenalan pun aku ogah-ogahan, I used to have that “mind your own bussiness” motto. Seperti yang udah aku tulis di atas, aku mulai mengubah sikapku yang itu semenjak di Surabaya. Selain karena aku butuh bertanya, juga karena aku pikir, udah saatnya aku keluar dari zona nyaman dengan lingkaran pertemanan yang itu-itu aja. Kalo ada kata-kata “banyak anak, banyak rezeki”, menurutku “banyak teman, banyak rezeki” juga bisa. Nyari temen jangan Cuma yang seumuran aja, tapi dari segala usia. Aku malah lebih suka ngobrol sama orang yang lebih dewasa, pembicaraannya lebih berisi, ga sekadar ngomongin selebgram yang lagi hits, ato baju yang lagi diskon doang. Aku inget waktu itu pernah ada seorang mbak-mbak yang ngomong “I believe that every person has something that we can learn from”, ngomongnya pake bahasa Inggris soalnya lagi di conversation class, hehe. Juga Dave Isay dalam pidatonya di TED mengatakan “Everyone around you has a story the world needs to hear”. Yap, dengan mendengar dan belajar dari pengalaman orang yang pastinya beda-beda, kita jadi tau sudut pandang dan persepsi orang lain, jadi tau bahwa dunia ini sangat kompleks dengan manusia yang kompleks pula. Ga jarang, cerita orang lain juga bisa bikin kita makin bersyukur dan ga gampang ngeluh.

Kelima, jangan membatasi diri. Raih sebanyak-banyaknya apa yang bisa kita raih. Kembangin diri semaksimal mungkin sesuai bidang yang kita senangi. Ikut seminar gratis, organisasi, aktivitas-aktivitas sosial, dan banyak hal lainnya. Pokonya kalo ada kesempatan, ambil aja! Kadang dengan kita mengambil suatu kesempatan, akan membuka pintu-pintu kesempatan lainnya. Contoh nih, di Surabaya ada satu fasilitas gratis yang disediain sama Bu Risma, sang walikota tercinta, buat anak-anak yang ingin belajar bahasa asing, namanya Rumah Bahasa. Ga Cuma bahasa Inggris, tapi banyak bahasa lainnya juga, mulai dari bahasa Jerman, Spanyol, Mandarin, Korea, Jepang, Arab, bahkan bahasa Jawa pun ada. Karena aku suka bahasa Inggris, dan karena gratis juga, aku akhirnya ikut sama temenku, seringnya kita ikut conversation class. Di suatu kesempatan, kita disuruh bikin kelompok kecil yg isinya 3 orang untuk kemudian ngobrol-ngobrol tentang diri kita. Ketika ngobrol, aku bilang aku tertarik sama public speaking, dan ternyata salah satu dari mereka ada yang merupakan member dari suatu public speaking club! Oleh masnya, aku dikasih link dan cp kalo aku pengen join. Hell yeah! Jelaslah aku pengen join, udah dari dulu aku tertarik sama public speaking. See? Kalo aku malam itu ga ke Rumah Bahasa, mungkin aku ga bakal ketemu masnya dan ga bakal kenal yang namanya Surabaya Toastmaster’s Club.

Tips-tips di atas pastinya masih jauh dari cukup untuk dijadikan pegangan buat hidup merantau, tapi semoga aja bisa membantu kalian-kalian calon anak rantau, ato yang udah jadi anak rantau. Sisanya, learning by doing aja yah.

——-

                Surabaya bagiku adalah tempat berjuang, menuntut ilmu. Sedangkan Gorontalo adalah tempat pulangku, tempatku beristirahat dengan orang-orang terkasih.

Banyak suka duka pastinya yang aku hadapi. Sukanya disyukurin, dukanya dihadapin dan diambil hikmahnya aja.

Kalo ditanya lebih enak mana, hidup sama keluarga ato merantau, ya jelas hidup sama keluarga lah. Mo makan tinggal makan, telat bangun ada yang bangunin, mo beli apa-apa tinggal minta uang, ga perlu nunggu jatah uang jajan dikirimin. Tapi kalo ditanya aku lebih suka yang mana, jawabannya beda. Hidup di zona nyaman itu ga menantang sama sekali, kita ga bisa berkembang sebaik di tanah rantau. Aku ga bilang kalo orang-orang yang hidup dengan orang tuanya itu hidupnya adem ayem ga ada tantangan, karena setiap orang hidup dengan tantangannya masing-masing. Semua itu Cuma masalah pilihan. Dan aku memilih menjalani tantangan itu dengan merantau.

 

#thanksforreading:)

Advertisements

Pentingnya Rasa Memiliki (Sense of Belonging)

        Mungkin banyak orang yang masih asing dengan kata-kata ini, atau ada beberapa yang sudah pernah mendengar tapi tidak tahu artinya. Jadi, pertama-tama aku akan menjelaskan apa arti sense of belonging atau rasa memiliki itu. Sense of belonging adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa memiliki sesuatu, sehingga dengan perasaan memiliki itu dia akan dengan sepenuh hati menjaga, mencintai, melindungi dan peduli dengan sesuatu tersebut. Misalnya nih, rasa memiliki terhadap rumah, orang akan senantiasa menjaga kebersihan, kenyamanan dan keamanan rumahnya, entah itu nyapu tiap hari, ngepel, membersihkan debu-debu yang menempel di perabot rumah, bahkan menggembok rumahnya agar terhindar dari maling, apa aja pokonya dilakukan untuk menjaga rumahnya. Contoh lain misalnya seorang karyawan yang merasa memiliki perusahaan tempatnya bekerja, dia akan melaksanakan pekerjaannya dengan baik, bukan karena takut atasannya atau karena dikejar deadline, bukan pula sekedar ingin memenuhi kewajiban karena sudah digaji, melainkan karena dia cinta dengan pekerjaannya, dia merasa menjadi bagian dari perusahaannya, dia merasa harus membuat perusahaan tersebut menjadi lebih baik dengan adanya dia disitu. Kalo orang yang ga punya sense of belonging, dia ga akan peduli dengan kebersihan rumah yang ditinggalinya, juga tidak akan maksimal dengan pekerjaannya. Nah, kurang lebih begitulah gambaran tentang sense of belonging.

            Alasan kenapa aku mengangkat topik ini pada tulisan kali ini yaitu karena banyak orang yang masih belum menyadari seberapa pentingnya sense of belonging itu. Apapun yang kita lakukan di dunia ini kalau dilakukan dengan terpaksa dan tanpa ketulusan, hasilnya ga akan maksimal. Itu sebabnya kita butuh sense of belonging dalam setiap hal, dengan sense of belonging kita akan melakukan kewajiban kita dengan sepenuh hati.

          Mari kita analisis lebih jauh. Banyak masalah yang kita hadapi selama ini tanpa kita sadari disebabkan oleh kurangnya sense of belonging. Kita mulai dari masalah yang serius dan general. Tentang bumi. Apa yang kalian lakukan kalo ngeliat ada sampah di tempat yang tidak seharusnya? Mungutin sampahnya dan dibuang pada tempatnya? Pura-pura ga liat? Ber-masa bodo? Ato jangan-jangan sampahnya dimainin, ditendang-tendang kesana kemari? (ini sih pengalaman pribadi:D) Kalo jawaban kalian yang pertama, Alhamdulillah.. masih ada orang yang peduli sama bumi kita, good job! Nah, kalo jawabannya yang kedua, ketiga ato bahkan keempat, perlu evaluasi diri lagi tuh. Jujur, dulu aku juga masih suka ga peduli dan ber-masa bodo sih, tapi makin kesini aku mulai mencoba untuk merubah diri, mungkin agak merepotkan, tapi ya balik lagi, kalo bukan kita, siapa lagi yang bakal menjaga bumi ini?

          Ga bisa dipungkiri lagi, bumi kita makin lama makin parah. Polusi udara, polusi air, kebakaran hutan, makin berkurangnya pepohonan, dan masih banyak lagi yang akhirnya membuat bumi jadi makin rusak. Salah satu penyebab utamanya ya kurangnya sense of belonging. Orang-orang makin egois, makin sedikit orang yang merasa perlu menjaga bumi tempat dia berpijak, pabrik-pabrik industri hanya terpaku dengan bagaimana cara mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan berbagai efek samping yang dihasilkannya. Padahal jika terjadi sesuatu dengan bumi, ya kita juga yang kena akibatnya. Sekitar 2 tahun lalu, aku pernah berkunjung ke Singapura dalam rangka studi ekskursi. Ada pengalaman menarik disana yang kebetulan berhubungan dengan topik kali ini. Di hari pertama kita disana, kita melakukan tour dengan mengendarai kendaraan amfibi, kendaraan yang bisa melewati darat dan air, melewati berbagai tempat-tempat terkenal di Singapura, selain bapak sang pengemudi, ada juga bapak tourist-guide yang sepanjang perjalanan menjelaskan berbagai hal tentang tempat-tempat tersebut. Begitu memasuki daerah Marina, bapaknya berkata bahwa dulu sekitar 10 tahun lalu sungai itu kotor banget, sampai akhirnya pemerintah membuat kebijakan tentang menjaga kebersihan sungai dan bahkan membuat program yang diberi nama “ABC (Active, Beautiful, and Clean) Waters”. Hingga kini, bisa kita lihat Marina jadi bersih banget dan bebas dari sampah. Beliau juga menambahkan bahwa kita harus terus menjaga kebersihan lingkungan kita, karena kita hidup di atasnya. Kata-kata beliau masih terus terekam jelas di dalam pikiranku. What a really good sense of belonging. Coba bayangkan kalo semua orang berpikiran seperti itu terhadap bumi ini, ga akan ada lagi sampah yang ditemukan di tempat-tempat yang tidak seharusnya (di sungai, di trotoar, di tempat-tempat umum), ga akan ada lagi polusi air yang disebabkan oleh limbah-limbah pabrik, ga akan ada lagi pengeksploitasian SDA yang berlebihan.

        Selanjutnya, aku akan membahas tentang sense of belonging terhadap sesama. Akhir-akhir ini orang makin individualistis. Bahkan Indonesia yang terkenal akan keramahan penduduknya pun mulai terjangkiti “virus” ini. Mungkin karena kecanggihan dunia telekomunikasi yang membuat kita kecanduan berhubungan di dunia maya dengan medsos daripada dunia nyata. Kalau kata orang, medsos itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Miris sih, tapi itu kenyataannya. Coba deh aku tanya, nama tetangga kalian siapa aja? Ga usah jauh-jauh deh, tetangga samping kanan dan kiri aja, tau ga namanya? Aku yakin ga sedikit dari kalian pada ga tau nama tetangganya. Sekarang, coba aku tanya, siapa nama temen duetnya Awkarin di lagu Bad? Nah loh, lebih banyak yang bisa jawab.. Padahal seharusnya kita lebih kenal sama tetangga-tetangga kita, jarak tempat tinggalnya aja cuma beberapa langkah. Jujur, aku pun kurang mengenal tetangga-tetanggaku, namanya juga lupa (p.s. udah 2 tahun lebih ninggalin rumah, jadi udah lupa, kalo pulkam pun paling Cuma ketemu satu dua kali dan Cuma saling membalas senyuman aja sama tetangga ), maklumlah, aku tinggal di perumahan yang dominannya dihuni oleh para pekerja kantoran yang berangkat pagi pulang sore bahkan malam, jadi ga ada tuh kegiatan ngobrol-ngobrol ato ngerumpi bareng khas ibu-ibu yang biasanya kita lihat di TV kalo lagi pada beli sayuran, ga ada juga kegiatan bapak-bapak ngumpul bareng malem-malem karena ada giliran ronda, ga ada. Paling-paling ngobrol dan silaturahminya pas Idul Fitri atau Idul Adha. Padahal tetangga itu harusnya jadi kayak keluarga kedua kita, karena kalo ada apa-apa, orang terdekat yang bisa kita datengin ya tetangga, sedangkan sanak keluarga yang lainnya kan pada jauh.

           Jadi inget waktu itu pas berkunjung ke rumah nenek (kayak judul cerpen zaman SD aja ya:D) yang di Makassar, tepatnya Kabupaten Pinrang. Walaupun orang bugis asli, aku ga bisa lancar bahasa Bugis karena dari kecil udah ga tinggal di Makassar, jadinya waktu di sana aku ga bisa ngomong banyak, apalagi orang-orang disana juga ga banyak yang bisa bahasa Indonesia. Di hari pertama aku disana, aku sok-sokan mau sholat magrib jamaah di masjid kampung, padahal hafal jalan aja enggak, sendirian pula karena nenekku udah ga kuat kalo jalan ke masjid dan keluargaku yang disana cowok semua, berangkatnya sih bareng, nah pas pulangnya itu ga bareng, sebelum berangkat aku udah dibilangin nenek kalo tersesat bilang aja “aku cucunya haji Mase’” pake bahasa Bugis, orang-orang pasti pada kenal. Dan bener aja, pas pulang aku pun tersesat, yang harusnya aku belok di belokan kedua, malah belok di belokan pertama, maklumlah ya baru pertama kali ngelewatin jalannya, udah gitu pas berangkat jalanan masih terang benderang eh pas pulang udah gelap, ditambah lagi rumah-rumah disana itu mirip-mirip semua, sama-sama rumah panggung yang bahan dasarnya kayu, yang ngebedain paling cuma aksesoris tambahan kayak gantungan pintu, kursi depan teras, ato pohon mangga depan rumah, selebihnya mirip banget. Berbekal ingatan samar-samar dan insting (yang ternyata salah), aku nyari-nyari jalan pulang, sampe akhirnya tiba di satu rumah yang aku kira adalah rumah nenekku, udah sok-sokan masuk, ngucap salam, eh ternyata salah rumah, itu malu banget sumpah, untung yang punya rumah baik, beliau langsung nanyain aku mau kemana, teringat dengan pesan nenekku sebelum berangkat, aku akhirnya ngomong kalo aku cucunya haji Mase’, dan bener aja , Ibunya langsung manggil anak ceweknya yang masih kecil untuk nganterin aku pulang ke rumah nenek. Lega banget rasanya begitu akhirnya sampe rumah. Dari pengalaman ini aku bener-bener bisa ngeliat bahwa memang orang-orang di desa kekerabatannya erat banget, btw jarak rumah nenekku dan rumah Ibunya itu lumayan jauh loh, terpisah beberapa belokan, tapi mereka masih saling mengenal satu sama lain, jauh berbeda dengan orang-orang di kota (walaupun ga semuanya gitu sih).

         Nah, terakhir, sense of belonging mengenai negara. Waduh, rada berat nih. Beberapa waktu lalu aku sempat belajar tentang “xenosentrisme” di pelajaran sosiologi, jadi “xenosentrisme” itu intinya adalah anggapan bahwa budaya luar negeri itu lebih keren dari budaya negeri sendiri. Ketika kalian lebih bangga pake barang-barang merek luar negeri daripada barang dalam negeri, ketika kalian lebih bangga makan di tempat makan asal luar negeri daripada makanan khas nusantara, ketika kalian lebih mengapresiasi film-film luar negeri daripada dalam negeri bahkan sebelum kalian tau isi film itu sendiri, dan ketika ketika yang lainnya, nah itu namanya “xenosentrisme”. Bukan berarti ga boleh pake barang buatan luar negeri, ato ga boleh makan di tempat makan asal luar negeri, bukan juga kita harus nonton film dalam negeri terus, ga begitu, tapi setidaknya kalau mau melakukan hal-hal tersebut, kita punya alasan yang jelas. Kalau mau pake barang buatan luar negeri, alasannya apa? Kalau karena emang modelnya kita suka, nyaman dipakai, kualitasnya bagus, nah itu boleh-boleh aja, karena kita membeli barang memang untuk memenuhi kebutuhan. Yang ga boleh adalah ketika alasan kita itu cuma sebatas “prestise” atau “kebanggaan”. Pengen ala-ala artis K-pop, artis Bollywood, model Victoria’s Secret, biar samaan kayak si A di drama ini, biar mirip sama si B waktu di MV yang itu. Buat apa? Mulailah untuk bangga dengan jati diri kita sendiri. Atau kalau mau nonton film luar negeri, alasannya apa? Emang suka genrenya? Ato cuma karena doktrin “film Indonesia mah ga seru, mainstream, ceritanya gampang ditebak”? Waktu itu aku pernah ngajak temen nonton film Indonesia di bioskop, dan dia bilang “Nonton film *** aja” (film luar negeri), pas aku tanya alasannya, dia bilang “Gapapa, males aja. Aku kalo ke bioskop ga pernah mau nonton film Indonesia, sayang duitnya, film Indonesia mah ceritanya ga seru”. Nah itu tuh yang salah. Belum juga ditonton filmnya, udah bilang ga seru aja. Udah pernah nonton film 5cm? Sang Pemimpi? Sabtu Bersama Bapak? Habibie dan Ainun? Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Banyak banget kok film-film indonesia yang keren dan plot twist. Jangan subjektif lah, yang diliat karyanya, bukan siapa yang buat atau darimana asalnya. Lagian kalo kita aja yang orang Indonesia ga mau mengapresiasi karya bangsa kita sendiri, terus siapa lagi? Kalau menurut kita Indonesia masih belum bisa dibanggakan, ya cobalah untuk berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama Indonesia, berkaryalah sesuai bidang masing-masing, jangan taunya protes aja. Kalau ga bisa berkarya, ya paling tidak apresiasilah karya anak bangsa yang lain.

            Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh sense of belonging, tapi kurang lebih 3 poin di atas udah bisa memberikan gambaran sepenting apa sense of belonging itu. Udah ngerti kan? Udah dong..

       Nah, kalo udah tahu pentingnya sense of belonging, apa yang selanjutnya kita lakukan? Try to have it. Belong to something. Now. With anything you have. Jagalah dan cintailah apapun yang kita punya saat ini. Keluarga kita, rumah kita, kerabat-kerabat kita, pekerjaan kita, bumi kita, negara kita. Bayangin kalo semua orang di dunia ini punya sense of belonging, ga akan ada lagi yang namanya perang, perebutan kekuasaan, korupsi, keserakahan, rusaknya bumi, dan kekacauan-kekacauan yang lainnya. Yah memang susah, sangat susah bahkan, karena memang pada dasarnya manusia diciptakan dengan ego masing-masing, tapi setidaknya kita bisa memulainya dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari sekarang. Besok-besok kalau mau buang sampah, buanglah di tempatnya, kalo ga ada tempat sampah di daerah situ, sampahnya disimpen dulu sampe nemu tempat sampah, kedengarannya ribet, tapi worth it kok, kalau ketemu tetangga sempatkanlah ngobrol walaupun sekedar nyapa, ato paling minimal senyum deh, kalau mau beli apa-apa, hilangkanlah doktrin bahwa semua yang impor-impor itu lebih keren daripada produksi dalam negeri. Toh ini juga demi kebaikan kita. Kalo bisa, kasih tau orang-orang di sekitar kalian tentang hal ini, ajak mereka untuk mulai berbuat sesuatu atas dasar rasa memiliki. Karena bersama-sama kita bisa membuat perubahan besar.

#thanksforreading:)

Islam itu apa…?

Beberapa waktu lalu seorang guru atau lebih tepatnya tentor aku mengajak kami siswa-siswanya untuk berdiskusi tentang Islam. Banyak poin-poin menarik yang aku dapatkan melalui diskusi singkat itu yang kemudian mengantarkanku untuk menulis tulisan ini sekarang.

Diskusi kami dimulai ketika tentor aku tersebut bertanya “Menurut kalian apasih Islam itu?”. Pertanyaan sederhana, namun bermakna banyak. Beragam jawaban yang bermunculan, ada yang dengan santainya menjawab “agama”, ada yang menjawab “sholat”, “puasa”, dan lain sebagainya. Aku sendiri pada saat itu berpikir, mencari kata yang tepat untuk mengatakan “ Islam itu adalah bagian dari hidup kita, pedoman berpikir untuk kemudian bertindak dengan cara yang benar” karena kita disuruh untuk hanya menjawab dengan 1 kata. Kemudian aku memilih kata “ideologi” sebagai jawabanku. Setelah itu, beliau pun menceritakan sebuah kisah. Pada suatu ketika, seseorang yang entah darimana asalnya datang menemui Rasulullah saw. ketika beliau sedang bercengkerama dengan para sahabat. Orang asing itu tiba-tiba mendekati Rasul dan bertanya “Apakah Islam itu?”. Meskipun Rasul tidak mengenal orang asing tersebut, beliau tetap menjawab dengan tutur kata yang sopan “Sesungguhnya yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya”. Kalau kata tentornya, intinya sih Rasul mau menjawab “mboh yo” cuma dengan kata yang lebih puitis, haha. Tapi kemudian Rasulullah melanjutkan jawabannya dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Islam itu adalah mengucapkan 2 kalimat syahadat, mendirikan sholat, membayar zakat, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, dan naik haji bila mampu. Yap, 5 poin yang kita kenal dengan rukun Islam. 5 poin inilah yang akan aku bahas selanjutnya.

  1. Syahadat

            Syahadat itu ibaratnya pintu masuk menuju Islam. Kalau mau masuk Islam, ya harus syahadat dulu. Lalu apakah menjadi seorang “muslim” se-sederhana itu? Yap, sesederhana itu kok. Pertanyaan yang mungkin pernah muncul di benak kita, termasuk aku sendiri adalah “Gimana kalo ada orang non-muslim yang kelakuannya baikkk banget bahkan lebih baik daripada orang muslim lainnya, suka membantu orang lain, rajin sedekah, jujur, ga minum alkohol, dan lain sebagainya. Apakah mereka bakal masuk surga juga? Kan mereka beramal baik”. Dan pada kenyataannya memang banyak orang-orang non-muslim yang baik banget perilakunya. Pada waktu itu, tentorku memberitahu sebuah analogi, kalo ga salah beliau mendengar analogi ini dari Dr. Zakir Naik dalam sebuah dakwahnya. Analoginya begini, kalo ada siswa SMA yang tertarik banget sama bidang astronomi, tiap hari sang siswa membaca buku-buku astronomi, dan bahkan dia mengikuti kelas astronomi yang ada di perguruan tinggi walaupun siswa tersebut bukan mahasiswa di situ. Tiap ada kelas astronomi sang siswa tidak pernah alfa, selalu mengikuti kelas tersebut, tiap tugas yang diberikan dosen dikerjakannya walaupun tugas tersebut tidak dikumpulkan kepada sang dosen. Sang siswa bahkan menjadi jauh lebih hebat dalam bidang astronomi dibanding mahasiswa-mahasiswa astronomi itu sendiri. Pertanyaannya, apakah siswa tersebut kemudian dapat meraih gelar sarjananya dan mendapatkan ijazah dari perguruan tinggi tersebut hanya karena dia sudah belajar dengan gigih? Jawabannya pasti ga. Kenapa? Karena dia ga daftar. Nah, sama halnya dengan kasus di atas tadi, syahadat dalam Islam itu adalah pintu masuknya, cara mendaftarnya. Jadi mau sebaik apapun orang non-muslim tadi, semua itu sia-sia karena dia ga daftar. Sayang banget ya..

  1. Sholat

Ada setidaknya 3 hal yang bisa kita pelajari dari sholat.

Pertama, komunikasi. Sholat itu intinya komunikasi, gimana cara kita ngobrol sama pencipta kita, Allah. Seorang guru dulu pernah mengatakan “kalau kalian pengen Allah ngomong sama kalian, baca Al-Quran. Kalau kalian pengen ngomong sama Allah, sholat.” Jadi ya itu tadi, sholat itu komunikasi. Alangkah baiknya kalau kita tau arti dari setiap ucapan kita dalam sholat, mulai dari iftitah sampai tahiyat.  Sholat itu bisa di bilang ibadah yang paling sempurna, di dalamnya ada sholawat, dzikir (takbir, tasbih, tahmid, jalalah, istigfar, dll), dan doa-doa yang lain. Kita juga sholat dalam keadaan berwudhu, dan menghadap kiblat. Sempurna bukan?

Kedua, leadership. Sholat is the best example of leadership. Perhatikan aja, dalam sholat pemimpinnya cuma ada satu, bahkan dalam satu masjid dilarang ada lebih dari satu imam disaat yang bersamaan walaupun udah bukan sholat yang di awal waktu, dan makmum atau orang yang dipimpinnya selalu mengikuti setiap gerakan imammnya. Ketika imam rukuk, semua makmum ikut rukuk, ga ada yang tetap berdiri atau bahkan langsung sujud lol. Ketika imam tahiyat awal, semua makmum ikut tahiyat awal, bahkan walaupun makmum yang masbuk dan belum sampai rakaat ketiga pun tetap harus ikut tahiyat awal. Seharusnya dalam kepemimpinan pun begitu, orang yang dipimpin harus mengikuti pemimpinnya. Kepemimpinan disini tidak hanya soal pemimpin pemerintahan, tapi juga kepemimpinan yang lain. Misalnya seorang istri yang harus taat kepada suaminya, seorang anak yang harus taat kepada orang tuanya, seorang murid yang harus taat kepada gurunya, dan lain sebagainya, tentunya selama masih dalam koridor yang benar.

Ketiga, silaturahim. Salah satu hikmah umat muslim terutama pria dianjurkan untuk sholat berjamaah di masjid adalah agar mereka bisa bersilaturahim dengan jamaah sholat lainnya. Masyarakat modern saat ini kebanyakan sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing-masing hingga lupa bahwa mereka punya tetangga yang seharusnya juga diperhatikan, terlebih lagi kalau tetangganya seiman. Nah, dengan sholat berjamaah di masjid-masjid sekitar rumah inilah kita yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan kita tetap bisa berkumpul dan bertemu dengan para tetangga. Lagipula, silaturahim itu bisa menambah umur, menambah rezeki dan pastinya menambah pahala. Tentorku waktu itu bercerita, beliau punya seorang guru SMP yang pada suatu ketika sedang sholat di masjid dan kebetulan bertemu dengan teman SMP beliau yang juga merupakan murid sang guru. Awalnya sang murid bahkan tidak mengenali sang guru, mungkin karena faktor perubahan usia kali ya:D Maklum, mereka sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Nah, beberapa bulan setelah pertemuan itu sang guru kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit bukannya langsung ditangani, beliau malah disuruh untuk menunggu karena memang pada saat itu rumah sakit sedang kebanjiran pasien, sementara jumlah dokter dan perawat pun terbatas. Tak lama kemudian, tiba-tiba salah seorang dokter di rumah sakit itu berpapasan dengan guru tersebut dan ternyata sang dokter adalah murid yang tidak sengaja bertemu di masjid beberapa bulan lalu. Langsung saja sang dokter langsung mengurusi gurunya hingga akhirnya dapat ditangani tanpa mengantri panjang. Dokternya berkata kalau saja gurunya terlambat ditangani, kemungkinan beliau sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sekarang coba kita mengambil hikmah dari kejadian ini, kalau saja pada waktu itu sang guru atau si murid tidak ikut sholat berjamaah di masjid, maka mungkin mereka tidak akan bertemu, dan si murid tidak akan ingat akan wajah gurunya. Dan ketika gurunya masuk rumah sakit sekali pun, kemungkinan si murid tidak mengenalinya, dan pastilah penanganannya tidak akan secepat itu. Dan akhirnya.. yah, Wallahu A’lam ya. Intinya, segala sesuatu yang diperintahkan Allah itu ga mungkin ga ada mashlahatnya, ga mungkin ga ada tujuannya. Pun sebaliknya, segala sesuatu yang dilarang Allah pasti ada kemudharatan dibalik itu. Entah kita sudah mengetahuinya atau belum.

Ada lagi satu hal yang mungkin hanya bisa didapat ketika sholat. Ketika seorang pejabat, menteri bahkan presiden bisa satu barisan dengan (maaf) tukang bakso, petugas kebersihan, hingga satpam. Ketika si kaya dan si miskin, si kuat dan si lemah, si hitam dan si putih bisa satu barisan, berdiri, duduk bahkan sujud bersama-sama. Indah bukan? Masha Allah..

  1. Zakat

Kita hidup di zaman di mana sebagian besar orang memandang segalanya lewat materi. Di mana yang dianggap bahagia cuma mereka yang banyak duitnya, padahal kebahagiaan itu dirasakan, bukan dilihat dari banyaknya materi. Kenapa banyak orang-orang yang sudah diberikan rezeki yang melimpah tapi masih enggan memberi? Karena mereka menganggap memberi itu mengurangi kekayaan, mengurangi jumlah materi yang mereka punya, mereka berkata demikian karena mereka berteori menggunakan akal mereka sendiri, akal manusia. Padahal ada banyak sekali hal di dunia ini yang tidak dapat dijangkau oleh akal kita. Salah satunya masalah zakat ini. Allah sudah menjanjikan ke kita bahwa Dia akan memberikan yang lebih banyak apabila kita bersedekah. Dan janji Allah ga mungkin dilanggar. Pernah lihat orang jatuh miskin akibat bersedekah? Ga pernah kan? Adanya orang jatuh kaya gara-gara bersekah. Eh, jatuh kok kaya? Ya itulah pokoknya. Dan juga harus selalu diingat bahwa di dalam harta kita itu terdapat sebagian hak orang-orang miskin. Pernah kehilangan suatu barang yang berharga? HP ? Laptop? Dompet? Mungkin sebagian orang pernah mengalami ini, coba deh introspeksi diri lagi. Apakah selama ini sudah sedekah? Sedekahnya senilai ga sama rezeki yang diberikan Allah? Gajinya 10 jt tapi sedekahnya 100rb, kan keterlaluan:D Kecurian atau kecopetan itu memang adalah ujian, ujian tentang bagaimana kita bersabar menghadapinya. Tapi mungkin saja penyebab dari kecurian atau kecopetan tersebut karena kita tidak memberikan harta kita kepada yang berhak, makanya Allah mengambilnya lewat jalan kecurian atau kecopetan. Wallahu A’lam ya. Ambil hikmahnya aja untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih baik.

Waktu itu tentorku bercerita sedikit tentang masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dimana semasa kepemimpinannnya selama 2 tahun, beliau benar-benar menaruh perhatian besar dalam hal zakat. Semua masyarakatnya wajib membayar zakat sesuai ketentuan, jika tidak, akan mendapat sanksi yang berat. Dan alhasil, selama 2 tahun itu pula negeri tersebut terbebas dari kemiskinan, bahkan pemerintah kesulitan mencari fakir miskin untuk menerima zakat sehingga akhirnya zakat tersebut disalurkan ke negeri-negeri non-muslim. Indah bukan? Masha Allah..

  1. Puasa

            Pernah ga sih kalian memperhatikan kalau bulan Ramadhan itu suasananya berbeda dengan bulan-bulan lain? Mulai dari dini hari masjid-masjid sudah diramaikan oleh suara zikir, pemuda-pemuda bahkan anak-anak kecil  berjalan dari satu rumah ke rumah lain sambil membangunkan orang-orang untuk sahur, jamaah sholat subuh yang lebih banyak dari biasanya,  jalanan yang lengang kalau sudah siang dan kemudian ramai lagi begitu memasuki sore, malamnya jalanan ramai dengan orang-orang yang pergi ke masjid untuk sholat isya dan tarawih. Di bulan Ramadhan juga orang-orang jadi lebih menjaga diri. Yang biasanya berpakaian terbuka mulai menggunakan pakaian yang agak tertutup bahkan ada yang jadi berkerudung, jumlah bacaan Qur’annya lebih banyak, kotak amal lebih sering tersentuh, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya. Dan itu semua memberikan kesan berbeda dari bulan-bulan lain. Meskipun setelah bulan Ramadhan banyak yang kembali seperti sebelumnya, hanya sebagian kecil yang konsisten. But it’s still beautiful. Oh, I wish everyday was Ramadhan..

  1. Haji

Walaupun ‘hanya’ diwajibkan bagi yang mampu, namun sebaiknya setiap umat muslim berusaha sebaik mungkin untuk bisa menunaikan ibadah yang satu ini. Tidak murah memang bagi kita yang tinggalnya jauh dari tanah Arab, tapi selama kita berniat dengan sungguh-sungguh pasti akan ada jalan. Tidak sedikit orang-orang yang kondisi ekonominya memprihatinkan tapi akhirnya mampu menunaikan ibadah haji, berbekal niat dan usaha yang konsisten dijalani bertahun-tahun, menabung rupiah demi rupiah hingga akhirnya berhasil menuju Baitullah. Semuanya tergantung niat masing-masing.

Kalau kita mengambil hikmah dari haji ini, kurang lebih sama dengan hikmah sholat, tapi lebih kompleks. Kalau dalam sholat si presiden dan si tukang becak bisa berada dalam satu shaf sholat, dalam kegiatan haji malah lebih kompleks lagi. Si putih dari Korea bisa duduk berdampingan dengan si hitam dari Afrika, bukan lagi beda profesi, tapi juga beda budaya, beda tempat tinggal, bahkan beda benua. Semuanya melakukan hal yang sama, beribadah kepada Allah untuk mengharap ridho-Nya. Tak ada perbedaan kelas, pakaiannya pun sama. Yang perempuan memakai jilbab dan kerudung, yang laki-laki memakai kain ihram. Semuanya sama, yang membedakan hanya amal masing-masing. Indah bukan? Masha Allah..

 

Jadi, Islam itu apa..? Well, sebenernya balik lagi ke diri masing-masing. Setiap orang punya sudut pandang berbeda-beda. Kalau menurutku pribadi, Islam tidak ‘se-sederhana’ rukun Islam. Aku tetap pada jawabanku di awal, “Islam itu adalah bagian dari hidup kita, pedoman berpikir untuk kemudian bertindak dengan cara yang benar”. Menjadi muslim itu mudah, cukup dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat. Menjadi muslim yang baik itu yang sulit, adaa aja cobaannya. Tapi ya kembali lagi, kita hidup di dunia ini kalau bukan untuk beribadah ya untuk apa lagi? Tujuan utama kita ya surga, bukan harta, bukan pangkat, bukan materi. Dan satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan itu ya dengan Islam. Wallahu A’lam~

 

#thanksforreading:)

Pendapatku tentang Buku Reach Your Dreams by Wirda Mansur

img_20161211_081529

Kali ini aku akan menulis sedikit ulasan dan pendapatku tentang salah satu buku yang baru saja terbit bulan November kemarin, Reach Your Dreams by Wirda Mansur. FYI, ini bukan promosi, aku cuma ingin berbagi pendapatku aja.
Seperti judulnya, buku ini isinya tentang tips-tips untuk menggapai mimpi-mimpi kita by Wirda Mansur. Kalian semua pasti udah tau dong rumus ‘Usaha + Doa = Sukses’. Nah, kalau di buku-buku motivasi lain lebih membahas tentang usahanya, di buku Reach Your Dreams by Wirda Mansur ini lebih membahas tentang kekuatan doa, shalawat dan baca Quran. Wirda berbagi cerita tentang gimana dia menggapai mimpi-mimpinya dengan bermodalkan ‘nabung’ shalawat dan baca Quran. Untuk kalian yang belum tau, Wirda sekarang sudah resmi menjadi salah satu mahasiswi di OXFORD UNIVERSITY, WOW!! Dan sekali lagi, itu semua dicapai dengan modal ‘nabung’ shalawat dan baca Quran! Well, pastinya butuh usaha keras juga sih 😀
Baca buku ini berasa baca diary nya Dia, lengkap dengan tanggal dan tempat dia nulis. Bahasanya juga lebih nyantai. Buat para remaja yang gak suka baca buku pun, aku rasa bisa ngabisin buku ini tanpa rasa bosan kayak baca buku-buku biasanya.
Dari segi design buku ini juga sangat menarik, didominasi oleh warna pink serta ilustrasi dan detail-detail lucu sehingga membuat buku ini jadi gak membosankan untuk dibaca. Buku ini juga punya banyak quotes dari Wirda, diantaranya ; “Nggak ada yang nggak mungkin kalau kita melibatkan Allah. Punya impian, libatkan Allah. Ingin ini dan itu, libatkan Allah.” ; “Alquran adalah pedoman hidup, maka apabila kita kehilangan Alquran, ya, hilanglah pedoman hidup kita” ; “Pandai-pandailah bersyukur, sering-seringlah bersyukur, maka segalanya akan menjadi indah:)“, dan masih banyak lagi quotes yang menurut aku memotivasi.
Overall, buku ini buat aku Recommended untuk semua kalangan, khususnya remaja yang lagi labil (:p) dan butuh motivasi.
That’s all about my opinion of the ‘Reach Your Dreams’ book by Wirda Mansur.

#thanksforreading:)

img20161211001 img20161211002 rotate_temp

Apa itu Kost Quran ?

Kali ini aku akan membagikan sedikit informasi tentang Kost Quran.
Pertama-tama, apa itu Kost Quran ?
Jadi, kost quran itu seperti namanya adalah sebuah kosan. Bedanya kosannya memiliki sistem yang lebih terkontrol. Jadi, di kost quran itu kita tidak hanya sekedar tinggal di kosan seperti pada umumnya, tapi kita juga akan dikontrol dengan berbagai kegiatan yang bersifat islami seperti almatsurat, sholat berjamaah, mengaji,dan lain sebagainya. Dan selain kegiatan tersebut, kita juga akan dilatih untuk lebih mandiri, yaitu dengan menetapkan giliran-giliran untuk melakukan beberapa kegiatan rutin seperti memasak, membersihkan kamar mandi, dll. Sehingga dalam kost quran ini kita akan mendapat banyak sekali manfaat yang tentunya sangat berguna untuk bekal kita hidup mandiri jauh dari keluarga serta orang tua. Beberapa manfaat tersebut antara lain ; dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt. , dapat belajar hidup mandiri ; menjalin kebersamaan antar sesama penghuni kost quran ; belajar bertanggung jawab ; dapat banyak ilmu bermanfaat. Tentunya masih banyak lagi manfaat lainnya jika kita bergabung dalam kost quran.
Dalam kost quran ini juga tentunya ada beberapa peraturan yang harus disepakati bersama. Jika kita melanggar peraturan tersebut, maka kita akan mendapat ganjaran seperti yang juga sudah disepakati sebelumnya. Dalam kost quran ini, strukturnya jelas. ada ketua yang fungsinya adalah untuk mengontrol semua kegiatan yang berlangsung di dalam kost quran. Wakil ketua yang bertugas untuk membantu wakil dalam menjalankan tugasnya. Sekretaris yang bertugas untuk mencatat hal-hal yang diperlukan untuk kegiatan di kost quran. Bendahara yang bertugas untuk mengkoordinir masalah keuangan dalam kost quran. Media yang bertugas untuk mencari dan memberitahu sebanyak mungkin informasi-informasi yang mungkin berguna untuk kost quran maupun anggotanya. Dan rumah tangga untuk mengurus masalah-masalah rumah tangga.
Kalau untuk sistem pembayaran, kost quran ini kurang lebih sama seperti kontrakan. Tiap orang membayar biaya sewa untuk setahun di awal masuk.
Sebagian besar orang-orang yang pernah menjadi bagian dalam kost quran pasti akan membawa banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik yang didapat dari sana. Biasanya kost quran memiliki waktu kontrak setahun, setelah itu terserah kita mau melanjutkan atau tidak.
Jadi, daripada kost/kontrakan biasa, sudah pasti jauh lebih baik bergabung dalam kost quran. Dapat banyak manfaat, banyak pahala, dan banyak ilmu.
Ayo gabung di kost quran!

#thanksforreading:)

Siapkah hadapi MEA 2016 ?

MEA. Masyarakat Ekonomi Asean. Tentunya kita sudah tak asing lagi dengan dengan kata ini. Mungkin sebagian masyarakat masih kabur tentang APA ITU MEA ?.

Ok. Sebenarnya saya adalah salah satu dari orang-orang tersebut sebelum seminggu lalu guru saya memberikan sedikit gambaran tentang MEA. Dan sekarang, kita diberikan tugas untuk menuangkan apa yang kita ketahui tentang MEA tanpa boleh melihat internet sama sekali. Jadi, semua yang saya tuangkan disini adalah murni tulisan seorang anak SMA dengan ilmu seadanya….

  1. APA ITU MEA ?

MEA adalah singkatan dari Masyarakat Ekonomi Asean. Artinya, masyarakat-masyarakat yang tergabung dalam Asean atau Asia Tenggara dalam hal ini akan bekerja sama dalam bidang perekonomian.

  1. APAKAH INDONESIA SIAP MENGHADAPI MEA ?

Apakah Indonesia siap menghadapi MEA ?

Ok. Jika saya ditanya tentang hal ini, maka saya akan dengan tegas menjawab INDONESIA BELUM SIAP MENGHADAPI MEA. Kenapa ? Karena dengan adanya MEA ini berarti kita diharuskan untuk dapat bersaing dengan negara-negara luar yang jika dilihat dari perkembangan perekonomian kita kalah dibanding mereka. Kita lihat contoh kecil saja. Jika anda pergi ke suatu toko untuk membeli sebuah barang. Terdapat beberapa barang dengan jenis yang sama namun harga yang berbeda. Yang mana yang akan kita pilih ?. Tentunya barang dengan harga termurah bukan ? Apalagi jika kualitas barang tersebut bagus. Ya, inilah kita. Membeli barang hanya dengan melihat 2 hal saja. Harga dan kemasan. Tanpa peduli  dari mana asal produk itu. Hasilnya, sebagian besar barang-barang kita BUKAN MERUPAKAN PRODUK ASLI INDONESIA.  Jika tidak percaya, silahkan cek barang-barang anda dan lihat dari negara mana barang itu berasal.

MEA belum diberlakukan saja kita sudah kalah saing dengan produk-produk impor, bagaimana nanti jika MEA sudah berjalan lama?

Tidak hanya pabrik-pabrik besar saja yang akan menerima dampaknya melainkan seluruh masyarakat Indonesia. Para pelajar, pencari kerja sampai para pedagang kaki lima pun akan merasakan dampaknya. Saya mulai dari para pelajar. Mungkin sekarang teman-teman saya sekalian belum merasakan secara langsung dampak dari MEA. Namun, jika kita tinjau lebih jauh, kitalah yang akan menerima dampak terbesar dari diberlakukannya MEA ini. Kita adalah generasi muda. Kitalah incaran utama dari MEA ini. Setelah kita lulus SMA nanti, kita akan mendapat berbagai pilihan Universitas yang akan kita masuki. Sebagian besar orang memimpikan untuk dapat sekolah di luar negeri. Paling tidak di wilayah Asia Tenggara. Dengan adanya MEA ini, kita akan lebih dimudahkan dalam pengurusan data-data yang diperlukan untuk bersekolah di luar negeri sehingga kecenderungan untuk kuliah di luar akan lebih besar. Nah, setelah lulus kuliah kita tentunya akan mencari kerja. Jika kita kuliah di luar, maka kemungkinan untuk menjadi pekerja luar negeri akan lebih besar. Jika sudah begini, maka itu berarti kita telah mengabdi kepada negara saingan kita sendiri. Dan Indonesia akan semakin kekurangan SDM-SDM berkualitas. Terakhir, dampak bagi para pedagang-pedagang kecil. Mungkin ada sebagian pedagang yang tidak peduli dengan diberlakukannya MEA ini. Mengira MEA tidak akan berdampak apapun pada mereka. Ya, memang secara langsung tidak. Tapi coba dianalisa lagi. Pedagang-pedagang tersebut, kita ambil contoh pedagang nasi goreng di pinggir jalan. Untuk membuat nasi goreng tentunya diperlukan bahan-bahan. Mulai dari beras, sambal, bumbu, dll.. Nah, jika MEA diberlakukan maka produk-produk impor akan semakin menjamur dengan beragam harga. Para pedagang-pedagang tersebut yang hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya pastinya akan lebih memilih produk impor dengan harga terjangkau tersebut. Maka secara tidak langsung, para pedagang ini telah terlibat dalam permainan MEA.

Bayangkan jika produk-produk asli Indonesia sudah tidak digemari lagi oleh masyarakatnya sendiri. Hal ini akan mengakibatkan para pemilik-pemilik pabrik mengalami penurunan pendapatan dan tentunya akan mengakibatkan nilai perkapita kita pun turun. Sehingga kita hanya akan menjadi negara yang konsumtif.

Kembali lagi ke pertanyaan diatas. Apakah Indonesia siap menghadapi MEA ? Dari situasi diatas dapat kita lihat betapa Indonesia masih perlu banyak membenahi diri sendiri dulu sebelum akhirnya dapat benar-benar bersaing dengan negara luar.

  1. APA YANG SUDAH SAYA SIAPKAN DAN APA HARAPAN SAYA UNTUK MEA ?

Apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi MEA ?

Jujur saya akui, saya belum percaya diri jika harus bersaing dengan negara luar. Namun, setidaknya saya telah mempelajari hal paling mendasar yaitu belajar Bahasa Inggris. Sangat simple memang kedengarannya. Tapi bagaimana kita dapat bersaing jika untuk berkomunikasi dengan mereka saja kita tidak bisa ?

Hal lain yang telah saya persiapkan yaitu belajar dengan baik. Sebagai pelajar, memang sudah tugas kita untuk belajar. Karena hanya dengan ilmu, kita dapat bersaing di era globalisasi ini. Kita juga harus meningkatkan wawasan kita terhadap perkembangan dunia.

Apa harapan saya untuk MEA ?

Seperti yang saya katakan diatas, menurut saya Indonesia belum siap untuk menghadapi MEA. Namun, siap tidak siap kita harus menghadapinya. Oleh karena itu, saya berharap dengan adanya MEA ini akan menjadikan Indonesia yang sebelumnya merupakan negara yang konsumtif akan terpacu untuk lebih produktif. Terutama untuk generasi-generasi muda.

Ok. Itulah tanggapan saya tentang MEA 2016. Mohon maaf bila terdapat kata-kata yang kurang berkenan. Terima Kasih sudah mau mengunjungi blog saya 🙂

6 Drama Korea Terbaik Menurutku

Berbicara tentang hobi, aku punya banyak hobi, salah satunya adalah menonton drama. Kenapa aku suka drama Korea ? hmm.. bingung juga jawabnya. Mungkin karena jalan ceritanya menarik dan ga ketebak ? Atau mungkin juga karena aktor dan aktris nya yang good-looking dan jago akting ? Entahlah. Intinya aku suka drama Korea:p

Oke, kali ini aku akan membahas tentang 6 DRAMA KOREA TERBAIK MENURUT PRIBADI. Ini penilaiannya menurut pribadi loh yaa, jadi terserah penulisnya mau ngurutin dari mana ke mana,wkwk..

  1. High School Love On

hi

Sumber foto : http://www.dramafever.com

Drama ini bercerita tentang seorang malaikat perempuan yang berubah menjadi manusia karena menolong seorang manusia. Lee Seul Bi. Itulah namanya. Karena ingin kembali menjadi malaikat seperti sebelumnya, Lee Seul Bi meminta bantuan Sunbae-nya yang juga seorang malaikat untuk menolongnya. Siapa sangka sebelum ia kembali menjadi malaikat, Lee Seul Bi malah jatuh cinta dengan pria yang ditolongnya tersebut (Woo Hyeon), begitu pun sebaliknya. Ketika Sunbaenya telah berhasil menemukan jalan keluar agar Seul Bi bisa kembali menjadi malaikat, dia malah memilih untuk tetap menjadi manusia karena Woo Hyeon. Namun kisah cinta mereka tidak berjalan mulus-mulus saja. Banyak masalah yang mereka hadapi. Mulai dari terlibat cinta segitiga dengan salah satu murid paling dikagumi di sekolah (Seong Yeol), hingga masalah keluarga. Namun pada akhirnya, Seul Bi dan Woo Hyeon bisa bersama dan menjalani hari-hari mereka dengan bahagia sebagai sepasang kekasih.

  1. You Who Came From The Stars

you

Sumber foto : asianwiki.com

Drama yang juga dikenal dengan judul “ My love from the stars” ini menceritakan tentang kisah percintaan tentang 2 orang yang memiliki jarak umur yang sangat jauh, yaitu sekitar 400 tahun. WOW!! Tentunya itu hal yang mustahil bukan untuk seorang manusia bisa hidup sampai 400 tahun ? Namun bagi seorang alien yang berasal dari planet lain hal itu wajar-wajar saja. Dan tak hanya itu, ia juga memiliki kekuatan super seperti teleportasi, telepati, dll. Iyap, jadi drama ini adalah kisah tentang seorang alien yang dibintangi oleh Kim Soo Hyeon yang dalam drama ini berperan sebagai Do Min Joon dan seorang selebriti wanita yang sangat populer yang dibintangi oleh Jun Ji Hyun sebagai Cheon Song Yi. Sikap konyol dan lucu sang wanita yang sangat bertolak belakang dengan sang pria yang lebih serius, pintar, dan perfeksionis ini malah menjadi paduan yang seru dalam kisah cinta mereka. Awalnya Do Min Joon yang 3 bulan lagi akan kembali ke planet asalnya ini sudah mulai bersiap-siap. Itu adalah saat yang ditunggu-tunggu olehnya setelah 400 tahun menunggu. Tapi, disaat-saat terakhirnya tinggal di bumi, dia justru bertemu dengan seorang wanita yang merubah hidupnya. Dialah Cheon Song Yi. Berawal dari ketertarikan Do Min Joon dengan foto sang wanita saat masih kecil yang sangat mirip dengan cinta pertamanya, kisah cinta yang seru itu pun dimulai. Waktu berlalu begitu cepat. Sudah saatnya Do Min Joon harus kembali ke planetnya. Itu adalah saat-saat tersulit untuk mereka. Namun ternyata Do Min Joon salah sangka. Benda yang sebelumnya dikira adalah planetnya ternyata hanyalah sebuah benda penghisap alien. Di akhir cerita Do Min Joon tidak bisa bersama dengan Cheon Song Yi selamanya dikarenakan benda yang sempat menghisap dirinya itu. Namun, ia dapat menampakkan dirinya sesekali sehingga ia dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk menghabiskan waktu dengan wanita yang sangat dicintainya, Cheon Song Yi.

  1. Cinderella Step Sister

cin

Sumber foto : himekoyukino.blogspot.com

Sesuai dengan judulnya, drama ini berkisah tentang 2 saudara tiri yang memiliki karakter yang sangat berbeda. Sang kakak, Eun Jo memiliki sifat pendiam, cerdas, agak kasar, dan tidak suka keramaian. Sedangkan sang adik, Hyeo Seon adalah orang yang cerewet, lemah dalam akademik, penyayang, dan suka keramaian. Karena sifat yang sangat bertolak belakang itulah sering terjadi konflik. Belum lagi soal cinta segitiga mereka dengan seorang lelaki yang merupakan salah satu pekerja di pabrik mereka, Ki Hoon. Pada masa-masa SMA sang adik terus mengalah untuk menghadapi sikap sinis sang kakak. Namun ketika beranjak dewasa sang adik mulai menaruh kebencian pada kakaknya. Hal ini dikarenakan rasa iri karena Eun Jo tumbuh dengan cerdas sehingga diberi kepercayaan lebih oleh ayahnya untuk mengelola perusahaan. Berbeda dengannya yang kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang. Konflik antara mereka berdua mulai meredam ketika sang ayah meninggal. Disaat-aat itulah mereka mulai membuka diri dan mencoba untuk bekerja sama untuk membangun perusahaan ayahnya yang nyaris akan bangkrut itu. Mengenai kisah percintaan, Ki Hoon akhirnya bersama dengan gadis yang sejak pertama telah membuat dia jatuh cinta, Eun Jo. Namun pada akhir cerita tidak ada status yang jelas mengenai hubungan percintaanya. Entah mereka menikah atau hanya sekedar menjalin hubungan, tidak ditunjukkan.

  1. Dream High 2

dr2

Sumber foto : www.dramafever.com

Drama ini bercerita tentang mimpi. Apa jadinya bila kita berada di sekolah yang sama dengan artis idola kita ? Menyenangkan dong pastinyaa.. Hal ini yang dirasakan Go Hye Sung yang diperankan oleh Kang So Ra dalam drama ini. Dikarenakan perbuatannya yang melanggar aturan, Jae Bum bersama teman-teman sesama agensinya menerima hukuman dengan diharuskan untuk kembali bersekolah di salah satu sekolah seni yang dahulunya merupakan sekolah paling favorit di Korea. Tak disangka, Jae Bum bertemu dengan jodohnya di sekolah ini yang tak lain adalah fans fanatiknya sendiri. Berbeda dengan Jae Bum yang mempunyai segudang bakat di bidang entertaiment, Hye Sung malah dikenal dengan gadis tanpa bakat. Banyak hal yang harus Jae Bum korbankan untuk cintanya tersebut. Mulai dari menyebarnya skandal Jae Bum dan Kang So Ra, hingga yang terparah adalah ketika kakinya mengalami cedera parah dan tak bisa kembali seperti semula sedangkan dia adalah seorang dancer. Pada akhirnya, Jae Bum memilih untuk menjadi penyiar radio dan Hye Sung menjadi penulis lagu terkenal hingga melanglangbuana ke luar negeri. Namun kisah cintanya mungkin bagi beberapa orang kurang memuaskan karena Hye Sung dan Jae Bum tidak menjalin hubungan apapun. Hanya sebatas teman.

  1. Who Are You

who

Sumber foto : kunya.wordpress.com

Drama ini mengisahkan tentang 2 orang saudara kembar yang terpisah dengan karakter yang berbeda. Sang kakak, Go Eun Byeul adalah orang yang kasar, dan tidak mau ditindas. Sedangkan sang adik, Lee Eun Bi adalah orang yang baik, lembut, dan bersedia dibuli demi membela teman sekelasnya. Sang kakak tau bahwa ia mempunyai saudara kembar, namun sang adik tidak tau apapun soal itu. Eun Byeul juga tau bahwa adiknya sering menerima perlakuan kasar dari 3 orang temannya yang memang terkenal suka membuli. Hingga suatu hari ketika Eun Byul bersama teman-teman sekelasnya sedang ada study tour ke Teongyeong yang merupakan daerah tempat tinggal adiknya, ia melihat Eun Bi sedang berdiri di atas jembatan. Tak lama kemudian secara mengejutkan sang adik tiba-tiba menjatuhkan diri ke sungai di bawah jembatan tersebut. Apalagi alasannya jika bukan karena sudah tidak tahan dengan perlakuan kasar yang ia terima tersebut. Karena merasa kasihan dengan kehidupan adiknya, maka Eun Byul pun tiba-tiba berencana untuk memberikan posisinya kepada Eun Bi. Ketika siuman, Eun Bi sudah berada si rumah sakit dengan seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya. Karena kondisinya yang sedang menderita amnesia sementara, maka Eun Bi percaya bahwa dirinya adalah Eun Byul. Ia pun menjalani hidup sebagai Eun Byul. Dan dari situlah ceritanya bermula… oh iya, kisah cintanya lumayan ga ketebak loh,wkwk..

  1. Dream High 1

dr1

Sumber foto : noviafatrin.blogspot.com

Kalau ada Dream High 2, pastinya ada Dream high 1 dong..

Sama seperti dream high 2, drama ini juga bercerita tentang mimpi, dengan berbagai karakter tokoh yang unik. Mulai dari Go Hye Mi yang kasar dan sopan santunnya kurang, namun pandai dalam musik terutama musik klasik, Kim Soo Hyun si cowok desa yang bisa bersekolah di Seoul, Jin Guk yang terkenal berandalan, Yoon Baek Hee yang selalu bermimpi menjadi penyanyi namun tak pernah diakui oleh ibunya, Kim Pil Suk cewek yang rela diet selama 200 hari demi orang yang dicintainya, serta Jason sosok yang banyak diidolakan karena keren dan bakat di bidang musik dan dance yang tidak diragukan lagi. Keenam tokoh ini berjuang mewujudkan mimpi masing-masing di sekolah yang sama. Pada akhirnya, Kim Soo Hyun lah yang menjadi orang paling sukses diantara mereka dengan menjadi penyanyi solo hingga ke manca negara. Hye Mi dapat menggelar konsernya yang ke 100, Jin Guk dapat menjadi artis terkenal, Baek Hee menjadi guru di tempatnya sekolah dulu, Kirin Art School. Sementara Pil Suk dan Jason menikmati hari-hari mereka sebagai sepasang kekasih yang bahagia.

PENYEBAB SULIT PUNYA TEMAN

Jika pada postingan sebelumnya aku membahas tentang TIPS PUNYA BANYAK TEMAN BAIK, kali ini aku akan membahas tentang PENYEBAB SULIT PUNYA TEMAN.

Masih merasa sulit buat dapat banyak teman baik ? hmm.. mungkin beberapa hal dibawah ini adalah penyebabnya.. So, check these out~

  1. Kamu tidak terlalu peduli dengan temanmu

Bagaimana rasanya jika kamu sedang sedih, tapi hanya diabaikan oleh temanmu ? Pastinya tambah sedih kan.. Nah, itu juga yang akan orang lain rasakan jika kamu tidak peduli dengan mereka. Dan jika sudah begitu, ya jangan heran kalau temanmu menjauh.

  1. Kamu sering bergosip negatif tentang orang lain

Membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain itu memang adalah perbuatan buruk. Yaa, memang sih sebagai manusia yang pastinya tak luput dari kesalahan, terkadang kita sering menggunjing tentang keburukan orang. Tapi, cobalah untuk mulai mengurangi kebiasaan tersebut, khususnya untuk para ladies yaa:p

  1. Kamu sering iri dengan apa yang dimiliki temanmu

Melihat teman yang jauh diatas kita itu memang dapat mengundang iri hati. Kalau sekali dua kali, masih dapat dimaklumi lah.. Tapi kalau sudah sering? Hmm… Itu nggak baik loh.. Setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, mungkin kamu tidak bisa menyaingi temanmu dibidang yang sama karena mungkin itu bukan bakatmu. Carilah passion yang ada dalam dirimu, dan kembangkan. Jadi ga perlu iri-irian lagi dengan temanmu. Bukankah kalau teman kita bahagia, kita juga harus bahagia ? 🙂

  1. Kamu terlalu sering mengkomplain tentang apapun

Mengkritik sih boleh. Malahan dengan mengkritik dapat menunjukkan bahwa kamu peduli dengan temanmu. Tapi jangan terlalu sering yaa..Yang ada temanmu malah merasa jengkel dan menjauh. Jadi pintar-pintarlah untuk menyampaikan pendapat, termasuk kritikan..

  1. Kamu meninggalkan teman lamamu ketika kamu mempunyai teman baru

Punya teman baru itu menyenangkan, apalagi kalau teman barunya klop sama kita. Tapi bukan berarti kita harus ninggalin teman lama kita.. Coba ingat lagi masa-masa indah yang pernah kamu lakukan dengan teman lamamu. Sayang kan kalau masa-masa indah itu terlupakan begitu saja.. Ingat juga, teman lama itu lebih berarti karena mereka sudah lebih tau kekurangan-kekurangan kita dan mereka memilih untuk tetap berteman.  Nah, teman seperti itu yang harus dipertahankan..

  1. Kamu berharap terlalu banyak dari teman-temanmu

Jika kamu berharap terlalu banyak, maka bersiaplah untuk kecewa terlalu banyak juga. Jangan menaruh harapan terlalu banyak yaa. Setiap orang punya urusan masing-masing begitupun dengan temanmu. Mereka ga mungkin kan meluangkan setiap waktunya cuma buat menuhin keinginan kamu..

  1. Kamu terlalu perhitungan dengan teman-temanmu

Sesekali cobalah untuk mentraktir teman-temanmu di hari-hari istimewa, misalnya ketika kamu memenangkan olimpiade, atau ketika baru gajian, dll… sebagai bentuk rasa syukur sekaligus berbagi kebahagiaan. Jangan pelit-pelit yaa sama teman-temanmu..

  1. Kamu jarang mengajak teman-temanmu pergi

Hang out itu seru loh.. apalagi kalau bareng teman. Kamu bisa seru-seruan bareng. Sebelum jalan-jalan, tentukan dulu tempat yang akan didatangi. Cari tempat-tempat yang ceria dan santai. Oh iya, jangan lupa cek budgetnya dulu yaa,wkwk.. Biar kamu sudah punya persiapan tentang berapa banyak biaya yang akan kamu keluarkan. Atau kalau kondisi keuanganmu lagi krisis alias boke kamu bisa mengajak teman-temanmu ke tempat rekreasi yang disediakan gratis.

Oke, itulah PENYEBAB SULIT PUNYA TEMAN. Coba evaluasi diri lagi yaa.. Mungkin masih ada beberapa kekurangan yang perlu kamu perbaiki 😉

Sumber : https://instagram.com/rahasiagadis

TIPS PUNYA BANYAK TEMAN BAIK

Teman baik ? Semua orang tentu ingin punya teman baik.

Karena kita adalah makhluk sosial maka sudah sifat alami kita untuk menjalin hubungan dengan banyak orang. Dan tentu saja semua orang juga butuh teman. Ingat ya, semakin dewasa kita maka semakin banyak pula kita perlu mencari teman. Jadi jangan terlalu tertutup dengan orang-orang baru. Cobalah untuk lebih membuka diri.

Nah, ini dia beberapa TIPS PUNYA BANYAK TEMAN BAIK :

  1. Perlakukan semua orang dengan respek.

Semua orang akan merasa senang jika diperhatikan.  Dan tidak suka diabaikan. Jadi, cobalah untuk mengikuti tips di atas. Suka atau tidak kalian, tertarik atau tidak kalian dengan pembicaraannya cobalah untuk bersikap sopan dengan menanggapi pembicaraannya.

  1. Biasakan selalu menanyakan kabar temanmu.

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, semua orang itu suka diperhatikan. Jika bertemu temanmu, tanyakan kabar mereka. Selain akan lebih mengeratkan hubungan, hal ini juga akan membuat temanmu menjadi lebih terbuka dengan keadaannya.

  1. Jangan membantah orang yang mengkritikmu.

Jika mendapat kritikan dari temanmu, jangan membantah. Jika temanmu mengkritik, itu berarti dia memperhatikanmu dengan memberitahukan kekuranganmu  agar  bisa menjadi lebih baik.

  1. Hargai pendapat dan sudut pandang orang lain

Setiap orang punya pendapat dan sudut pandang masing-masing, tak heran jika sering terjadi perbedaan pendapat satu sama lain. Yang perlu kita lakukan adalah menghargainya. Nggak lucu kan kalo kita berantem cuma gara-gara beda pendapat:)

  1. Biasakan untuk membantu orang disekitarmu

Bantu orang-orang yang ada di sekitarmu sebisa mungkin. Kita tidak pernah tau kapan kita butuh bantuan orang lain. Jadi kalo ingin dibantu, mulailah untuk membantu orang lain dulu.

  1. Kurangi mengatakan sesuatu yang tidak perlu

Basa-basi itu memang dibutuhkan, tapi jika terlalu sering maka akan jadi tidak baik. Ada beberapa jenis orang yang tidak terlalu suka basa-basi, apalagi kalau dalam suasana hati yang kurang baik. Jadi, kurangi untuk mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

  1. Selalu coba lakukan hal yang baru setiap hari

Ada keseruan tersendiri ketika mencoba hal-hal baru. Apalagi kalau itu dilakukan bersama teman-teman, pasti tambah seru bukaan ? Mencoba hal-hal baru juga bisa lebih membuka wawasan kamu.

  1. Jangan suka melemparkan tanggung jawab

Do it by yourself! Kalau masih bisa dikerjakan sendiri, kenapa nggak ? Jangan suka  melemparkan tanggung jawab. Bisa-bisa kamu akan dianggap pengecut dan malah akan dijauhi oleh teman-temanmu.

Oke, itulah beberapa tips punya banyak teman baik. Kalau sudah punya teman baik, jangan disia-siakan yaa.. Perlakukan mereka sebagaimana kamu ingin diperlakukan;)

Sumber : https://instagram.com/rahasiagadis

First Post

Hai, namaku Nur Hidayah. Oke, this is my first post. Jadi 2 hari lalu alias tanggal 9 Oktober kita disuruh bikin blog sama guru TIK kita. Awalnya sih niat bikin blog cuma biar dapet nilai dari guru. Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa ga dimanfaatin aja ? kan lumayan buat sharing ke teman-teman semua:D hmm.. mengenai temanya masih belum diputuskan. Entah mau posting tentang K-pop, pelajaran-pelajaran SMA atau apalah masih belum kepikiran. Jadi untuk saat ini postnya masih random. O iya lupa perkenalan:D, seperti yang aku bilang sebelumnya namaku Nur Hidayah, biasa dipanggil Hidayah. Sekarang aku tengah menjalani hari-hariku sebagai siswa kelas 2 SMA di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Aku murid pindahan dari Gorontalo (jauh yah..), jadi aku belum terlalu bisa bahasa jawa-,- Hmm.. hobiku adalah mendengarkan musik, klo masalah genre aku suka semuanya kecuali rock, tergantung lagunya juga sih.. kebanyakan lagu di playlist hp isinya lagu Korea, sisanya barat dan ada beberapa lagu Indonesia. Setelah mendengarkan musik, hobiku yang lain adalah membaca. Aku suka membaca apa saja yang menurutku menarik. Entah itu novel, majalah, dan lainnya, kadang-kadang aku juga suka membaca buku pelajaran sekolah, tergantung materinya:D.

And last, I’m a K-popers^^. Tapi bukan berarti postinganku akan berhubungan sama K-pop loh ya.. haha.. aku ingin blogku ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Hmm, mungkin kadang-kadang akan diselingi informasi-informasi K-pop/? Entahlah…

Ok, that’s all.. makasih buat yang udah meluangkan waktunya untuk membaca postingan ini 🙂 sering-sering berkunjung ke blogku yah;;)

See you on the next post~